Tahun Ajaran Baru 2021: Daring, Luring, Atau Blended Learning Method?

Lodys Aura

Lodys Aura

Tahun Ajaran Baru 2021: Daring, Luring, Atau Blended Learning Method?

Sejak pandemi Februari 2020 lalu, hampir semua sektor lumpuh parah, termasuk sektor pendidikan. Hampir semua kegiatan belajar di sekolah dan universitas dilakukan secara jarak jauh (Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ). Bahkan hingga awal tahun 2021 ini, sistem pembelajaran online dan PJJ ini masih berlangsung. 

Meski demikian, perlu diakui bahwa pandemi Covid19 ini mampu mengubah perilaku para pelaku pendidikan, terutama guru dan siswa. Guru dan siswa mampu berkolaborasi selama kegiatan belajar-mengajar online berlangsung. Terlebih keduanya telah didukung oleh sejumlah fasilitas pendukung pembelajaran online, seperti aplikasi dan situs belajar online gratis, penyampaian materi pembelajaran via televisi, dan lain sebagainya. 

Selama hampir satu tahun, sekolah dan universitas di Indonesia menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh alias daring dan juga blended learning method alias metode pembelajaran campuran (luring-daring). Blended learning method ini memang menjadi opsi belajar terfavorit karena terbukti efektif. 

Blended learning method ini bisa diterapkan dengan memanfaatkan sejumlah aplikasi belajar online gratis seperti Google Meet atau Zoom yang memiliki fitur video interaktif. Melalui fitur ini, guru dapat secara langsung menyampaikan materi kepada para siswa. 

Melalui fitur video yang sama dan di sesi yang sama, guru juga dapat memberi kesempatan kepada para siswanya untuk bertanya atau memberi feedback terkait dengan materi yang baru saja disampaikan. Dengan cara ini, guru dan siswa memiliki interaksi yang aktif selama pembelajaran online berlangsung.

Baca juga: 5 Kendala Implementasi Pembelajaran Daring

Lantas, bagaimana dengan tahun ajaran baru 2021 nanti? Akankah tetap memberlakukan blended learning method? Atau kembali ke sistem belajar daring? Atau sudah bisa mulai kembali ke sistem pembelajaran konvensional (luring)? 

Melihat kondisi rate penularan Covid19 yang terus meningkat, kemungkinan besar blended learning method dan daring learning method masih menjadi opsi terbaik. Tentu dengan pertimbangan penekanan angka penularan Covid19. 

Memang benar bahwa blended learning method dan daring learning method terbilang efektif untuk masa sekarang ini, ada beberapa catatan penting jika kedua pembelajaran ini tetap diberlakukan. Catatan positifnya antara lain menjadikan hubungan orang tua dengan anak semakin dekat karena orang tua menjadi pendamping si anak selama proses pembelajaran tengah berlangsung. 

Catatan positif lainnya dari diberlakukannya sistem belajar online adalah anak menjadi lebih teratur dan disiplin karena dituntut untuk tetap belajar meski berada di rumah. Disiplin di sini tidak hanya disiplin dalam mengikuti kelas online, melainkan juga disiplin dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. 

Akan tetapi, pemberlakuan sistem belajar online rupanya membawa dampak psikologi yang kurang baik bagi para siswa. Contoh sederhananya, pada pembelajaran konvensional, siswa masih dapat saling bertemu di kelas dan di lingkungan sekolah lainnya. Kondisi ini sangat berbeda dengan  masa sekarang di mana kontak fisik antar siswa dibatasi guna menekan penyebaran Covid19. 

Dampak psikologi lainnya yang jauh lebih buruk adalah soal manajemen stres akibat kegiatan belajar online yang cukup berat. Manajemen stres yang kurang baik dapat berpotensi menyebabkan depresi. Tentu kita tidak ingin generasi muda kita mengalami depresi hanya karena belajar online, bukan? 

Academia.co.id pernah membahas seputar dampak negatif dari implementasi pembelajaran online. Dampaknya kurang lebih sama dengan isi jurnal yang ditulis oleh Saudari Diah Ayu (dilansir dari Media Indonesia edisi 03 Januari 2021). Dalam jurnal tersebut disebutkan bahwa peralihan dari pembelajaran luring ke pembelajaran daring akibat pandemi Covid19 membawa dampak negatif bagi para siswa SD dan SMP. 

Comments are disabled.