3 Pesona Seni Budaya Belitung yang Mengesankan untuk Disaksikan

Pesona Seni Budaya Belitung – Perjalanan di Belitung memungkinkan Anda melakukan lebih dari sekadar menikmati keindahan alam. Kita dapat merasakan pesona seni dan peradaban yang menarik dan khas karena Belitung dihuni oleh orang-orang dari berbagai agama dan kebangsaan seperti Melayu, Bugis, Tionghoa, dan lain-lain. Daya tarik seni budaya di Belitung lebih dari sekedar perbincangan. Meski telah berubah drastis, seni dan budaya Belitung tetap dilestarikan, bahkan ada yang diikutsertakan dalam festival tahunan. Berikut beberapa pesona seni budaya Belitung luar biasa yang mungkin kita alami saat berlibur di Belitung.

Sajian 3 Pesona Seni Budaya Belitung 

1. Nirok Nanggok

Pesona Seni Budaya Belitung
Nirok Nanggok

Masyarakat di Desa Belantu, Kemiri, di bagian selatan Pulau Belitung, sangat akrab dengan adat Nirok-Nanggok. Di Belitung, adat Nirok Nanggok telah berkembang menjadi budaya pedesaan yang dipraktikkan selama musim kemarau panjang. Sungai-sungai Belitung akan turun drastis selama musim kemarau panjang, yang biasanya berlangsung dari Agustus hingga September. Ada beberapa ikan di sungai yang mungkin ditemukan dari sini. 

Masyarakat turun ke sungai bersama-sama untuk mengumpulkan ikan sebanyak-banyaknya, menggunakan peralatan seperti tirok (semacam tiang kayu dengan tombak yang ditempelkan di dasarnya) dan tanggok (sejenis jaring rotan kecil). Meskipun tampaknya hanya olahraga memancing, ada serangkaian proses panjang yang harus diselesaikan sebelum aktivitas dapat dilakukan. Beberapa rangkaian acara juga memiliki banyak tahapan sakral dengan aturan ketat yang tidak boleh dilanggar. Seorang dukun setempat memimpin pawai Nirok Nanggok, yang dihadiri oleh kepala desa. Tujuan acara Nirok Nanggok adalah untuk menyatukan masyarakat dan menjaga adat istiadat setempat. Meskipun individu diperbolehkan untuk menangkap ikan, tidak semua ikan dapat diambil karena beberapa harus dikembalikan ke sungai untuk tujuan konservasi.

2. Maras Taun

Pesona Seni Budaya Belitung
Maras Taun

Tidak diketahui pasti kapan dan dari mana budaya Belitung ini berasal. Ritus Maras Taun, di sisi lain, adalah salah satu adat Belitung yang paling populer. Setiap tahun, penduduk desa berkumpul di satu lokasi untuk melakukan Maras Taun. Siapapun, tanpa memandang usia atau kelas sosial, dapat melacak Maras Taun. Saat Maras Taun dilaksanakan, dukun atau kepala desa setempat akan mengawasi prosesnya. Saat itu, dukun setempat memimpin masyarakat dalam doa untuk perlindungan dan keselamatan dusun dan warganya. Maras Taun mirip dengan ritual pembubaran desa di pulau Jawa, Indonesia. Adat Maras Taun dilakukan setahun sekali, setelah panen. Selain doa untuk keselamatan dan perlindungan, Maras Taun dibacakan untuk mengungkapkan penghargaan atas hasil panen. Upacara Maras Taun biasanya terdiri dari banyak tindakan, termasuk doa awal, Tepong-Taw Belitung, dan doa penutup. Anehnya, di Maras Taun, kita mungkin tidak hanya melihat upacara doa, tetapi kita juga disuguhi beberapa kesenian Belitung kuno seperti tari Sepen, Ngemping, dan Nutok-Lesong yang panjang. Sejak upacara yang dulunya dikenal dengan istilah meremas ini sudah menjadi tradisi tahunan, Anda yang berkunjung ke Belitung bisa menikmatinya dengan girang.

3. Buang Jong

 Pesona Seni Budaya Belitung 
Buang Jong

Buang Jong adalah atraksi seni-budaya pertama dari negeri tentara pelangi yang mungkin bisa kita apresiasi. Adat Buang Jong diciptakan oleh salah satu suku asli Belitung, yaitu suku Sawang yang hidup di laut. Pembuangan jong ini berbentuk adat larung laut, dimana jong atau perahu kecil dilempar ke dalam air. Sebelum Jong dilepas ke air, dilakukan ritual serupa dengan adat Larung Laut di tempat lain, dengan menaruh beberapa sesaji di atas perahu yang dilengkapi dengan ancak (rangkaian rangka bambu yang membentuk rumah). Ritual pengorbanan kepada penguasa laut dilakukan untuk memohon perlindungan, keselamatan, dan berkah ketika berlayar untuk menangkap ikan di laut. Buang Jong adalah ritual tahunan yang berlangsung dari Agustus hingga November, saat angin musim barat bertiup. Prosesi Buang Jong yang berlangsung selama tiga hari tiga malam ini memacu pemerintah setempat untuk meluncurkan Festival Buang Jong. Festival Buang Jong ini biasanya diadakan di Pantai Mudong pada bulan November. Masyarakat Suku Sawang akan dilarang melaut selama tiga hari setelah prosesi puncak berupa Jong pelarungan.

Mengunjungi Belitung dengan menggunakan agensi open trip Belitung untuk memudahkan Anda selama berwisata aman dan nyaman. / Dy

Baca Juga: Mengenal Tari Kecak Lewat Sejarah dan Fakta-Fakta Uniknya