Di Indonesia sendiri, judi online seperti togel online, poker, sbobett, dan lain sebagainya masih saja marak. Bisnis judi online ini difasilitasi oleh ratusan atau bahkan ribuan situs casino online yang mudah diakses oleh penikmat judi di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Lantas, bagaimana status legalitas bisnis ini? Status ‘abu-abu’ legalitas judi tentu ada di benak kita semua.

Nah, maraknya situs judi online yang accessible di Indonesia menjadi biang pertanyaan bagi sebagian besar masyarakat kita. Apakah judi online legal di Indonesia? Mungkin Anda pun bertanya demikian. Jika dilarang, mengapa situs-situs tersebut masih bisa diakses secara bebas? Anda penasaran kan dengan status ‘abu-abu’ legalitas judi di Indonesia. Makanya yuk simak jawabannya berikut ini.

Awal Mula Perjudian Dilarang di Indonesia

Perjudian di Indonesia sudah ada sejak zaman kerajaan dan menjadi lebih populer lagi ketika negara-negara Eropa terutama VOC dari Belanda menjajah negara kita. Nah, jenis permainaan judi yang diperkenalkan oleh para penjajah tentu berbeda. Para penjajah ini menggunakan kartu sebagai media berjudi. Mungkin di zaman sekarang kita mengenalnya sebagai permainan judi poker, Blackjack, QuiQui, Domino, dan lain sebagainya.

Kemudian sekitar tahun 1980an, ada sebuah permainan judi yang sangat terkenal ketika itu, yaitu Mickey Mouse, sejenis judi bola tangkas yang benar-benar disukai oleh semua lapisan masyarakat kita. Sayangnya semua rumah judi tersebut ditutup di awal tahun 1990an. Alasannya adalah karena hukum Indonesia yang melarang segala jenis permainan judi.

Alhasil, banyak rumah-rumah judi baru yang bermunculan dan beroperasi secara diam-diam. Banyak pengelola rumah judi yang kucing-kucingan dengan lembaga penegak hukum. Bahkan hingga sekarang. Ini terjadi karena status ‘abu-abu’ legalitas judi di Indonesia.

Legalitas Judi Online di Indonesia

Lantas, bagaimana dengan status legalitas judi online? Apakah bernasib serupa dengan judi-judi biasa? Sebenarnya, legalitas judi online di Indonesia telah diatur dalam UU ITE pasal 19 tahun 2016. Kemudian pasal ini diperkuat oleh pasal 45 yang berisi tentang ancaman pidana (maksimal 6 tahun) atau denda maksimal 1 miliar bagi yang melakukan, memfasilitasi, dan menyebarkan judi online.

Nah, yang menjadikan pasal-pasal ini sedikit rancu adalah kata-kata ‘yang memiliki hak’ yang mengacu pada pelaku yang mendistribusikan judi online belum memiliki makna yang jelas. Banyak masyarakat kita yang mempertanyakan, ‘apakah ada lembaga/ institusi/ instansi/ pihak yang mempunyai hak untuk mendistribusikan judi online?’  

Aturan dasar yang mengatur legalitas bisnis online di Indonesia masih belum tegas dan jelas. Makna dari pasal-pasal di atas masih simpang siur dan terlalu umum. Ini adalah hal yang umum ketika kita membaca pasal atau ayat dalam perundang-undangan mungkin memang dibuat umum karena menyangkut banyak kepentingan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa legalitas bisnis judi online di Indonesia masih ‘abu-abu’ atau belum jelas. Meskipun demikian, pemerintah Indonesia melalui Kominfo secara tegas akan melarang berbagai bentuk bisnis perjudian, termasuk judi online di tanah air.

Hal ini diperkuat dengan adanya rencana pembelian software khusus oleh Kominfo yang mana software ini nantinya mampu mendeteksi sekaligus memblokir situs-situs yang bermuatan judi online.

Larangan Judi Online bagi Anak

Selain soal status ‘abu-abu’ legalitas judi, kabarnya nanti juga akan ada aturan khusus mengenai batasan usia untuk para pemain judi online di Indonesia. Aturan semacam ini ternyata dibuat oleh sebagian besar pengelola situs-situs judi online yang ada di Indonesia. Tujuannya adalah untuk memfilter para calon users yang hendak bermain judi yang tersedia di dalam situs-situs tersebut.

Sebenarnya tidak ada aturan yang jelas mengenai batasan usia untuk calon users yang ingin mendaftar di situs-situs judi online. Namun aturan ini wajar diberlakukan karena salah satu syarat untuk menjadi user di situs-situs judi online adalah calon user harus memiliki nomor rekening yang harus dibuat dengan menggunakan kartu identitas seperti SIM atau KTP. SIM atau KTP ini hanya bisa dibuat apabila seseorang sudah berusia minimal 17 tahun.

Adanya batasan usia kiranya sangat baik untuk diberlakukan karena users anak tidak direkomendasikan join ke situs judi manapun. Pertimbangannya adalah:

  • Mental anak yang masih labil

Kekuatan mental menjadi salah satu tolok ukur seseorang dapat bertahan ketika bermain judi online. Orang dewasa dengan mental yang stabil tetap memiliki potensi untuk ‘goyah’ apabila tidak disertai dengan persiapan (skill dan trik) yang mumpuni. Bayangkan hal ini menimpa pada pemain yang masih anak-anak. Risiko frustasi, stress, depresi tentu sangat tinggi pada golongan pemain yang satu ini.

  • Potensi kerugian lebih besar

Pemain yang masih berusia 17 tahun tentu belum memiliki penghasilan yang tetap. Alhasil, modal yang digunakan untuk bermain judi bisa saja berasal dari uang jajan, tabungan, atau uang saku mereka yang didapatkan dari orang tua atau wali mereka. Jika mereka kalah, tentu kerugian yang mereka terima akan berlipat ganda karena kini mereka tidak punya uang saku, uang jajan, atau tabungan untuk memenuhi kebutuhan belajar mereka.

Berbicara soal users dari kalangan anak, ada beberapa negara yang memperbolehkan anak-anak menjadi users casino mereka. Negara bagian Nevada adalah salah satunya.

Baca juga: Ga Cuma Asik, Yuk Intip Dampak Positif & Negatif Bermain Togel di Situs-Situs Togel Online Terbaik